My Memoriam



My Memoriam In IPM
By: Indi Rahmawati

Memori, ya sebuah kata yang selalu mengingat  akan perihal masa lalu. Ini dan itu selalu mewarnai setiap langkahnya. Begitu banyak film pendek yang terekam;terabadikan oleh nya. Namun kadang, kenapa banyak orang yang ingin menghapusnya? Ingin membuangnya? Apakah mereka pikir perjalan hidup mereka tak bermakna? Apakah mereka pikir langkah mereka hanya sekedar sekelebat skenario film? Yang bahkan ketika ditonton, dilupakan  begitu saja. Atau apakah  bagi mereka sebuah ingatan  seperti halnya permen karet? Manis dicecap dan  ketika sudah pahit dibuang seeanknya, yang tanpa tahu tempatnya.

Memori  tak bisa bisa dihapuskan;dibersihkan ketika sang pemilik tak menghapusnya secara paksa. Memori tak bisa dibuang seketika,saat tak ingin diingat , serta memori tak bisa dilupa dengan istilah begitu saja, walau sang pemilik memiliki jutaan cara menghilangkannya.

 Memori adalah jejak perjalan hidup kita, lukisan dari sekenario takdir yang Sang Pencipta berikan. Memori lah yang merekam  segala prihal tantang rasa, segala perihal tentang pembelajaran, dan segala perihal tentang makna hidupmu untuk dirimu sendiri. Dengan memori hidup kita menjadi lebih berarti;bermakna. Disana tersimpan  begitu banyak amanat,pembelajaran, dan dokma tantang langkah, sikap, dan laku untuk masa sekarang, nanti, besok, dan beribu besok yang akan datang.

Dan diatas sini, izinkanlah saya merangkai kepingan ingatan ini dengan sajak sederhana, dalam bait bait aksara yang biasa, dan diatas kertas yang yang tak seelok pelangi itu. Mungkin ini bukan sajak-sajak berbahasa gaul yang yang membuat pembaca merasa tak bosan, bukan pula bahasa puitis yang membuat orang tekagum kagum bila membacanya, dan bukan pula  bahasa politik yang akan membawa pembaca mengikuti alurmya.

Sekali lagi, ini hanya rangkain sederhana,dengan bahasa apa adanya, dan dari seorang yang tak pandai merangkai kata.  Nikmatilah secuil kisah ini  disaat senja mulai menampakkan diri. Bersantailah ditemani kopi atau teh. Kenapa harus senja? Karena bagi yang mengalaminya,  kisah ini sama seperti senja yang melihatnya merasakan kapuasan, keindahan yang ingin digenggam erat, kemudian menghilang, tapi keindahan senja masih terekam jelas dalam benak.



            Perkenalkan nama saya Indi Rahmawati, saya biasa dipanggil dengan panggilan yang sangat beraneka ragam, dari yang biasa saja sampai luar bisa melenceng. Saya tidak tau kalian kepo atau tidak terhadap panggilan nama saya, tapi intinya saya hanya ingin member tahu saja, siapa tahu nanti,besok,lusa kita bertemu. In, Ndi, Ndut, Ndulll,  Indi, Indro, Indir, Indira, Incess, Calon Miss World itu semua adalah nama panggilan saya, bisa dilihat mana yang paling benar dan mana yang paling aneh. Mimpi saya menjadi seorang Psikiater, kenapa? Ya karena saya suka berinteraksi dengan  orang gila, saya senang mendengar apa yang mereka curhatkan, dan saya suka dengan ekspresi mereka yang polos, dan akan lebih bangga lagi ketika dapat menyembuhkan mereka.
            Dipimpinan Daerah IPM Banjarnegara  saya menjabat sebagai anggota Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO). Ini adalah periode pertama saya di pimpinan daerah. Dan disini saya kan merangkai  kisah awal saya terjun kedunia IPM dengan sagaal kepingan-kepingan memorinya.
 IPM, kepanjangan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Tidak menarik memang kelihatannya, apalagi bagi orang awan seperti diriku ini. Pasti yang terpikirkan adalah  “pasti itu organisasi fanatic, pasti tahunya mencari kesalahan orang lain, sukanya ngatur ngatur dan nyuruh orang hijrah, padahal belum tentu anggotanya sudahbenar semua, dan bla bla, masih banyak lagi”. Hahaha kalau begitui sama. Awal saya dengar juga kesanyya begitu.
Namun siapa sangka kini diri ini malah semakin ingin bergelut didalamnya, rasanya ada begitu banyak prihal yang terlihat begitu menarik. Dan dirasa rasa setelah masuk pikiran diatas, itu rasanya sangat menyimpang dari organisasi tersebut.
Berawal dari saya masuk kedalam jajaran anggota Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah di MTs Muhammadiyah Sarwodadi, Pejawaran. Awalnya saya  tidak tahu apa-apa tentang apa itu IPM. Waktu itu saya masih imut-imut , kelas VII. Masih teringat dibenak, pertama kali rapat,masih seperti orang hilang yang bingung kemana arah jalan pulang, eaaks.
Waktu itu saya dipilih menjadi anggota Bidang Kajian Dakwah Islam. Dan pada saat tahu dipilih dibidang itu saya tambah cengo, batin saya berkata “what to the what, tukang adu jotos, tukang reang, tukang nyolot  kayankie melbune Bidang Kajian Dakwah Islam, sing milih kayane nganggo kacamata spiderman. Banget petenge, asal comot bae, kaya tuku mendoan”
Dan ketikan rapat perbidang saya tambah dibuat bingung kembali, saat itu rapat dipimpin oleh ketua bidang KDI sendiri, dia kelas VIII. Pertama-tama dia menjelaskan secara singkat tentang bidang KDI dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan itu. Sejujurnya sadah sedikit lupa yang ia jelaskan tentang apa saja, intinya waktu itu kita dibimbing, diarahkan olehnya untuk membuat proker. Masih teringat, disitu saya menjadi satu-satunya  anggota kelas VII sendiri dan otomatis bisa dilihat siapa wajah yang terlihat kentara yang paling abstrak, saat yang lain sibuk mengusulkan program-program yang mumpuni,aku  masih setia dengan raut wajah bingung itu. Dalam hati saya  sudah ingin bertanya, namun pertanyaan itu tak kunjung keluar dari mulut cantik saya. Yang entah kenapa waktu itu saya  enggan bertanya, walaupun rasa ingin  tahu telah memberontaknya.
Tidak berhenti sampai situ, pada saat akhir periode, yang artinya saya sudah kelas VIII. Saya tambah dikejutkan dengan dicalonkannya menjadi ketua IPM periode selanjutnya. Waktu itu ada tiga pasangan yang dicalonkan menjadi ketua dan wakil ketua. Tiga pasangan itu adalah nomer satu (Syahrul Fatakh dan Agif Mario), nomer 2 (Wiwit Widya A dan Nurfitri Muthmainnah), dan nomer 3 (saya sendiri dan Hanni’ Ma’rifatul A). (di MTs saya belum ada musyran, dan distrukturalnya juga masih menggunakan system ketua dan wakil ketua. Pemilihannya bukan dengan pemilihan formatur tapi kaya coblosan lurah).
Kita yang sebenarnya belum faham betul tentang apa itu IPM mau tidak mau harus mengikuti serangkaian dari pemilihan itu, dari membuat visi dan missi, sampai latihan berbicara didepan banyak orang untuk menyampaikan visi misi itu. Dan asal kal8ian tahu visi misi punya saya dan teman saya itu dulu copas di google, kenapa? Ya kerena waktunya pemberitahuaanya sudah mepet, kalu nggak salah h-7 kita dikasih tahu, sedangkan pada saat itu kita yang juniar jarang diikutkan kegiatan tentang IPM.
Sebelum pemilihan kita sudah sangat tidak merebutkan siapapun yang jadi, intinya ya kita sudah deal-dealan siapun yang jati kita semua akan legowo. Itu semua terbukti ketika pencoblosan dan kita para calon duduk didepan dan saat ada orang lewat yang akan mencoblos saya dan teman saya bilang “hey, coblos nomer 1 bae ya,  aja nomer 3, sing lanang bae men bisa tegas. Inget aja klalen nomer 1 dan pokoke kudu nomer 1”
            
            Dan saat perhitungan suara selesai pun saya akhirnya sangat merasa senang sekaligus lega, karena akhirnya bukan saya yang mendapat suara terbanyak, yang artinya  bukan saya yang akan mengemban amanah menjadi ketua IPM.  Saya sangat  bersyukur atas itu karena akhirnya yang menjadi seorang pemimpin adsalah laki-laki.
            Namun perjuangan awal saya malah dimulai dari situ. Kita yang sudah menjadi senior dadakan harus memegang amanah dan menjalankan roda organisasi dengan baik dan benar, karena otomatis kitalah yang akan menjadi panutan bagi adik kelas maupun teman seangkatan.
            Saat itu kita benar-benar merasakan apa yang namanya berjuang,  berjuang membagi waktu, berjuang melawan lelah, dan berjuang menahan segala ego ketika banyak orang menentang dan menghina.
            Masih teringat betul memori suka dan duka itu, ketika rapat pulang sore bahkan malam, ketika akan rapat perlu beradu mulut bahkan sampai menangis terlabih dahulu, ketika harus bersabar saat rapat yang berangkat hanya segelintir manusia yang bisa dihitung dengan jari, ketika kita didemo, dan ketika kita disindir karena hal sepele.
            Namun tak hanya duka, namun suka pun pernah dari lalui. Dan yang paling berkesan adalah ketika kita stady banding ke IPM SMP Muhammadiyah 3 Sirampog, waktu itu kita kesana dengan rombongan pimpinan ranting, dengan bapak-bapak PCM, ibu Aisyiah Cabang, Ibu PCNA. Dan yang tak pernah terlupa adalah waktu peralihan dan serah terima jabatan kepada adik kelas, yang waktu itu adalah potong tumpeng bersama-sama, yang awaktu saat pengambilan mengajak orang se RT, maksudnya banyakak sekali orang, padahal kalu ditaksir nasi tgumpengnya tidak teramat besar dan tidak teramat kecil pula.
            Mungkin hanya itu yang bisa sampaikan lewat rangkaian frasa ini, tak benyak, tak bermakna,dan tak meanghibur, tapi semoga dapat mengisi sedikit waktu luang. Sebenarnya masih banyak perihal yang ingin ditulis, banyak kata yang ingin dirangkai, dan banyak titik yang ingin ditebalkan, namun apalah daya dibutuhkan puluhan ribu kata, ribuan kalimat, dan ratusan lembar yang masih menjadi angan-angan. Bukan sekarang, tapi nanti mungkin.
Dan diakhir dipenghijung kata ini izinkanlah saya menafsirkan perjuangan menurut bahsa saya yang apa adanya.
            Perjuangan adalah dimana kita rela mengorbankan segala detik, ruang, dan lelah untuk sesuatu yang bukan hanya untuk diri kita sendiri. Perjuangan adalah dimana kita masih tetap berdiri kokoh walau ribuan badai meniup kita. Perjuangan adalah dimana kita mampu menggunakan celaa, hinaan sebagai motivasi muhasabh diri.
            Perjuangan bukan hanya tentang siapa namun juga tentang bagaima. Bagaimana kita bersabar, bagaimana kita memotivasi, dan bagimana kita bertahan, serta bagaiman kita melangkah dan berlari mengejar suatu bintang. Dan bintang itu bukan hanya bintang kita, namun bintang berjuta umat disekitar kita.
            Dan perjuangan adalah posisi dimana kita sudah ingin berhenti, namun masih berempati dengan keadaan disekitar. Yakin itu terasa sulit, saat kita mulai bosan, hambar namun hati tak merasa rela untuk mengabai.      
           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Utuk Kau yang Pernah Hadir